bunyi itu cukup begitu keras. aku melihat ke arah luar jendela, dan melihat sekitar. ternyata bangunan tua yang setiap pagi aku datangi kini telah ramai. mereka semua berbondong-bondong untuk secepatnya keluar dari gedung tua tersebut. termasuk aku! seharian ini, aku tidak tampak melihat batang hidungnya. tidak mencium wangi parfum yang memberikan khas padanya. dia tidak mengabariku. ternyata selama setengah hari ini dia hanyut dalam dunianya yang lain. dunia mimpi kusebut namanya. kaki ku melangkah ke suatu rumah makan kecil, yang letaknya tidak terlalu jauh dari bangunan tua itu. panas dan beralaskan tanah! tapi disana aku merasa nyaman, karena kehangatan yang ku dapat. melihat beberapa orang bahakan hampir semua melontarkan tawanya. merasa lega setelah seharian berada di bangunan tua yang menyeramkan dan berpenghuni manusia-manusia yang telah cukup umur tapi aneh! aku pun terhanyut untuk bergabung tawa canda dengan mereka. ternyata dia ada di sana! aku menyapanya dan dia membalas dengan sentuhan tangannya yang membelai rambut cokelatku dan tidak lupa memasang senyum khas yang tidak lepas dari otak ku. beberapa lama aku di sana, dia mengajak aku ke suatu rumah yang bisa aku katakan itu adalah rumah masa depan. memang terdengar sedikit menggelikan. tapi aku hanya mengaminkan. saat sampai di sana, dia memberikan tiga buah buku yang ku sebut album kenangan. cukup usang untuk di lihat. sungguh lucu begitu aku membukanya. tiap lembarnya hanya bisa aku nilai dengan senyuman dan tawa. itu lah wajah kamu saat masih bocah. setelah itu kami beranjak. kami menerobos rintikkan hujan dengan roda dua yang sering ku taiki. kami menuju sutau tempat. menemanimu mencari suatu buku di antara rentetan dan tumpukkan buku yang terhampar di ruangan itu. "ketemu!" sembari tersenyum padaku. lalu kamu memberikan sejumlah uang pada pramuniaga untuk di tukar dengan buku yang telah kamu pilih. setelah itu kamu mengantarkan aku pulang seperti biasa. di sepanjang perjalanan kami biasa untuk selalu tertawa. entah apa yang kami tertawakan. tapi kami ingin selalu gembira. setelah aku sampai di rumah mungilku, aku baru ingat. suatau barang yang cukup penting bagiku tertinggal di dalam tas dia. yaa tentu saja, apalagi kalau bukan ponsel. beberapa kali aku mencoba menghubungi telepn genggam dia. dan akhirnya di angkat! syukur alhamdulillah, dia mau mengantarkannya kembali ke rumah ku . sesampainya dia di depan pagar yang bercatkan warna biru-kuning, dia memberikan ponselku. dan kalian tahu ? di juga memberikan kesukaanku. dark chocolate! wow!! terimakasih pea...'aku sayang kamu, Hardian Karaguna' :)
Jumat, 13 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

makasih udah jadi pengikut blog gw..salam blogger..
BalasHapusiya nih, gw lebih sering nulis di facebook..lebih efektif.Kalo ada add aja " http://www.facebook.com/profile.php?id=1227092899&v=feed&story_fbid=51310964113#/profile.php?id=1604716218&ref=profile " lo eynya hardian ya ??
BalasHapus